A. Pengantar
Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma, artinya yang dikerjakan, yang
dilakukan, perbuatan, tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang
dikembangkan oleh William James (1842 - 1910) di Amerika Serikat. Menurut
filsafat ini, benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau teori semata-mata bergantung
pada manusia dalam bertindak. Istilah pragmaticisme
ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. Pierce (1839-1914) sebagai
doktrin pragmatisme. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun 1978.
Diakui atau tidak, paham pragmatisme menjadi sangat
berpengaruh dalam pola pikir bangsa Amerika Serikat. Pengaruh pragmatisme
menjalar di segala aspek kehidupan, tidak terkecuali di dunia pendidikan. Salah
satu tokoh sentral yang sangat berjasa dalam pengembangan pragmatisme
pendidikan adalah John Dewey (1859 - 1952). Pragmatisme Dewey merupakan
sintensis pemikiran-pemikiran Charles S. Pierce dan William James. Dewey
mencapai popularitasnya di bidang logika, etika epistemologi, filsafat politik,
dan pendidikan. Makalah ini sendiri selanjutnya akan mendeskripsikan pemikiran
John Dewey tentang pragmatisme pendidikan.
B. Kehidupan
John Dewey
John Dewey merupakan filosof, psikolog, pendidik dan kritikus sosial Amerika.
Ia dilahirkan di Burlington, Vermont, tepatnya tanggal 20 Oktober 1859. Pada tahun
1875, Dewey masuk kuliah di University of Vermont dengan spesifikasi bidang
filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Setelah tamat, ia mengajar sastra klasik, sains,
dan aljabar di sebuah sekolah menengah atas di Oil City, Pensylvania tahun
1879-1881. Bersama gurunya, H.A.P. Torrey, Dewey juga menjadi tutor pribadi di
bidang filsafat. Selain itu, Dewey juga belajar logika kepada Charles S. Pierce
dan C.S. Hall, salah seorang psikolog eksperimental Amerika. Selanjutnya, Dewey
melanjutkan studinya dan meraih gelar doktor dari John Hopkins University tahun
1884 dengan disertasi tentang filsafat Kant.
Dewey kemudian mengajar di University of Michigan (1884-1894), menjadi kepala
jurusan filsafat, psikologi dan pendidikan di University of Chicago tahun 1894.
Pada tahun 1899, Dewey menulis buku The School and Society, yang
memformulasikan metode dan kurikulum sekolah yang membahas tentang pertumbuhan
anak. Dewey banyak menulis masalah-masalah sosial dan mengkritik konfrontasi
demokrasi Amerika, ikut serta dalam aktifitas organisasi sosial dan membantu
mendirikan sekolah baru bagi Social Reseach tahun 1919 di New York.
Sebagian besar kehidupan Dewey dihabiskan dalam dunia pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan yang disinggahi Dewey adalah
University of Michigan, University of Colombia dan University of Chicago. Tahun
1894 Dewey memperoleh gelar Professor of Philosophy dari Chicago
University. Dewey akhirnya meninggal dunia tanggal 1 Juni 1952 di New York
dengan meninggalkan tidak kurang dari 700 artikel dan 42 buku dalam bidang
filsafat, pendidikan, seni, sains, politik dan pembaharuan sosial.
Diantara karya-karya Dewey yang
dianggap penting adalah Freedom and Cultural, Art and Experience,
The Quest of Certainty Human Nature and Conduct (1922), Experience
and Nature (1925), dan yang paling fenomenal Democracy and Education
(1916).
Gagasan filosofis Dewey yang terutama
adalah problem pendidikan yang kongkrit, baik yang bersifat teoritis maupun
praktis. Reputasinya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam filsafat
pendidikan progresif di Amerika. Pengaruh Dewey di kalangan ahli filsafat
pendidikan dan filsafat umumnya tentu sangat besar. Namun demikian, Dewey juga
memiliki sumbangan di bidang ekonomi, hukum, antropologi, politik serta ilmu jiwa.
C. Sekilas
Tentang Pragmatisme
Pragmatisme pada dasarnya merupakan gerakan filsafat Amerika yang begitu
dominan selama satu abad terakhir dan mencerminkan sifat-sifat kehidupan
Amerika. Demikian dekatnya pragmatisme dangan Amerika sehingga Popkin dan
Stroll menyatakan bahwa pragmatisme merupakan gerakan yang berasal dari Amerika
yang memiliki pengaruh mendalam dalam kehidupan intelektual di Amerika. Bagi
kebanyakan rakyat Amerika, pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran, asal dan
tujuan, hakekat serta hal-hal metafisis yang menjadi pokok pembahasan dalam
filsafat Barat dirasakan amat teoritis. Rakyat Amerika umumya menginginkan
hasil yang kongkrit. Sesuatu yang penting harus pula kelihatan dalam
kegunaannya. Oleh karena itu, pertanyan what is harus dieliminir dengan what
for dalam filsafat praktis.
Membicarakan pragmatisme sebagai sebuah paham dalam filsafat, tentu tidak dapat
dilepaskan dari nama-nama seperti Charles S. Pierce, William Jamess dan John
Dewey. Meskipun ketiga tokoh tersebut dimasukkan dalam kelompok aliran
pragmatisme, namun diantara ketiganya memiliki fokus pembahasan yang berbeda.
Charles S. Pierce lebih dekat disebut filosof ilmu, sedangkan William James
disebut filosof agama dan John Dewey dikelompokkan pada filosof sosial.
Pragmatisme sebagai suatu interpretasi
baru terhadap teori kebenaran oleh Pierce digagas sebagai teori arti. Dalam
kaitan dengan ini, dinyatakan: bahwa teori pragmatis tentang kebenaran atau
suatu proposisi dapat disebut benar sepanjang proposisi itu berlaku [works]
atau memuaskan [satisfies], berlaku dan memuaskannya itu diuraikan dengan
berbagai ragam oleh para pengamat teori tersebut). Sementara
itu, James menominalisasikan pragmatisme sebagai teori cash value. James
kemudian menyatakan: "True ideas are those that we can assimilate, validate,
corrobrate, and verify. False ideas are those that we can not"
(Ide-ide yang benar menurut James adalah ide-ide yang dapat kita serasikan,
kita umumkan berlakunya, kita kuatkan dan kita periksa. Sebaliknya ide yang
salah adalah ide yang tidak demikian).
Untuk membedakan dengan dua
pendahulunya tersebut, Dewey menamakan pragmatisme sebagai instrumentalisme.
Instrumentalisme sebenarnya sebutan lain dari filsafat pragmatisme, selain eksperimentalisme.
Pierce memaksudkan pragmatisme untuk membuat pikiran biasa menjadi ilmiah,
tetapi James memandangnya sebagai sebuah filsafat yang dapat memecahkan
masalah-masalah metafisik dan agama. Bahkan
lebih jauh, James menganggapnya sebagai theory of meaning dan theory
of truth. Demikianlah, Dewey memberikan istilah pragmatisme dengan instrumentalism,
operationalism, functionalism, dan experimentalism. Disebut demikian karena
menurut aliran ini bahwa ide, gagasan, pikiran, dan inteligent merupakan
alat atau instrumen untuk mengatasi kesulitan atau persoalan yang dihadapi
manusia.
D. Eksperimentalisme
John Dewey
Pemahaman terhadap dewey menjadi jelas jika menelusuri pandangannya mengenai
pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan. John Dewey dianggap seorang empiris
karena baginya, pemikiran harus berpijak pada penggalaman (experience), dan
bergerak kembali menuju ke pengalaman-pengalaman. Jadi, baginya titik tuju dan
titik tolak dari pemikiran adalah pengalaman. Pada mulanya pemikiran bangkit
karena adanya pengalaman (cth; yang menyulitkan) dan pada akhirnya pemekiran
membuat pemecahan yang akan mempunyai akibat merubah situasi, yang berarti juga
pengalaman itu selanjutnya( yang akan datang).
Konsep kunci filsafat Dewey adalah pengalaman. Filsafat harus berpangkal pada pengalaman-pengalaman dan
menyelidiki serta menolah pengalaman itu secara aktif kritis. Karena itu, bagi
Dewey seorang filsuf harus peka akan pentingnya pengalaman. Pada awalnya Dewey
tertarik pada teori pengalaman yang dikembangkan oleh kaum Hegelian, tetapi
kemudian ia mengembangkan suatu teori semacam neo-empirisme. Ada 3 hal
pemikiran pokok mengenai pengalaman yang menurut Dewey diabaikan oleh para
pemikir idealis, yakni:
- Pengabaian terhadap pengalaman bertindak.
- penolakannya terhadap gagasan mengenai suatu hal yang merupakan kesatuan yang menyeluruh.
- anggapannya bahwa kaum Hegelian dan idealis mengenai kodrat alam yang terlalu mengeneralisasikan sehingga menuntun pada proyeksi kosmis yang keliru.
Dengan meninggalkan pemikiran Hegelian ini, Dewey kemudian beranggapan bahwa
pengalaman merupakan interaksi suatu organisme dan lingkungan, alam dan
masyarakatnya. Menurutnya
pengalaman merupakan pertemuan non-reflektif dengan suatu situasi seperti
halnya makan donat, menikmati pemandangan, dan bercanda dengan teman.
Pengalaman sangat erat kaitannya dengan proses berpikir. Karena proses berpikir
pada akhirnya tertuju pada pengalaman tersebut. Gerak pemikiran manusia
dibangkitkan dengan suatu keadaan yang menimbulkan permasalahan di dunia
sekitar kita dan gerak itu berakhir dalam berbagai perubahan. Pengalaman
langsung bukanlah soal pengetahuan yang mengandung di dalamnya pemisahan antara
subjek dan objek, pemisahan antara pelaku dan sasarannya.
Dalam pengalaman keduanya dipersatukan. Kalau terjadi pemisahan antara pelaku
dan objek, hal itu bukan merupakan pengalaman, melainkan suatu hasil refleksi
atas pengalaman tadi.
Menurut Dewey ada 2 hal yang mempengaruhi lahirnya konsep baru mengenai
pengalaman dan relasinya dalam pengalaman dan penalaran. Pertama, perubahan
mengenai kodrat pengalaman itu sendiri. Kedua, perkembangan suatu bidang
psikologi yang berlandaskan pada biologi. Perkembangan biologi membuat segala
sesuatu menjadi berubah. Prinsipnya kalau ada kehidupan pastilah ada tingkah
laku dan tindakan. Namun penyesuaian diri itu bukanlah suatu hal yang pasif
tetapi aktif, sebab organisme bertindak terhadap lingkungan tersebut dengan
memberikan perubahan terhadapnya sesuai dengan usahanya dalam mempertahankan
kehidupan dan menghadapi lingkungannya. Dalam hal ini pengalaman merupakan
proses timbal balik dan saling mempengaruhi antara makhluk hidup dan
lingkungannya dalam rangka menuju ke kehidupan yang lebih baik. Bagi Dewey
pengalaman adalah lingkungan yang merangsang organisme untuk memodifikasi
lingkungan itu dalam hubungan timbal balik.
E.
Istrumentalisme
a. Arti
Instrumentalisme
John Dewey adalah seorang pragmatis namun ia lebih memilih memakai kata
Instrumentalisme ketimbang istilah pragmatisme. Sebabnya ialah adanya keterlibatan
dalam perdebatan mengenai pengertian Pragmatisme yang terlanjur simpang siur.
Banyak filsuf terlalu mencari kaitan sejarahnya. Meskipun Dewey memakai kata
Instrumentalisme, hal itu bukan berarti ia meninggalkan pragmatisme sama
sekali. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa buku-bukunya tetap bernuansa
pragmatisme dengan konsekuensi-konsekuensi yang berfungsi sebagai penguji amat
peting bagi keabsahan proposisi-proposisi. Secara singkat pragmatisme adalah suatu metode untuk
menentukan konsekuensi praktis dari suatu ide dan tindakan. Ciri tindakan
adalah selalu mempunyai tujuan tertentu dan stimulus yang menariknya untuk
bertindak. Oleh karena itu tindakan baru dapat dipahami dari konsekuensi
praktisnya (hasilnya).
Bagi Dewey, Instrumentalisme adalah berpikir logis bergantung pada tujuan
kehidupan praktis. Kehidupan yang dimaksud di sini adalah hubungan dengan
situasi yang ada baik alamiah maupun sosial dan kebutuhan praktis ini skelaigus
mengarahkan pikiran kita. Karena itu menurut Dewey, berpikir hanyalah muncul
jika dibutuhkan situasi. Misalnya: Manusia adalah manusia yang selalu
bertindak. Dalam situasi tertentu tindakannya itu bisa terhambat, maka manusia
itu kemudian mulaui merancang suatu pemikiran demi kebutuhan praktisnya dalam situasi
tersebut. Rancangan itu adalah sesuatu yang belum terlaksana. Pemikiran
tercipta karena ada stimulus yang merangsangnya.
Menurut Dewey, berpikir adalah mentransformasikan suatu situasi yang kacau –
balau, situasi yang tidak menguntungkan, kegelapan, ke situasi yang lebih
terang, tenang, dan harmonis. Jadi, pemikiran hanyalah sebuah alat untuk
mengatasi suatu masalah atau menangani krisis dalam situasi konkret. Tugas dari
pemikiran adalah menemukan alat atau sarana dalam lingkup konkret demi tujuan
praktis yang dibutuhkan dalam kehidupan.
Dewey tertarik pada penerapan filsafat atas persoalan-persoalan sosial yang
semakin nyata, rumit dan membingungkan yang dihadapi di Amerika pada waktu itu.
Berhadapan dengan persoalan-persoalan ini, metode instrumentalisme menjadi
efektif untuk digunakan karena metodenya memperlakukan ide-ide untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan praktis. Penekanan Dewey dalam metode
instrumentalismenya adalah pada praktek, yakni pada keterlibatan aktual atau partisipasi
aktif dimana kita belajar dengan mengerjakannya (learning by doing).
Oleh karena itu dnegan teori yang demikian, ajaran Dewey disebut
instrumentalisme yang baginya merupakan teori mengenai bentuk konsepsi
penalaran umum yang merupakan kekhasan dalam pemikiran untuk memperkuat
konsekuensi selanjutnya. Dewey sendiri mengartikan instrumentalisme sebagai
usaha menyusun teori logis mengenai konsep-konsep, keputusan-keputusan dan
kesimpulan-kesimpulan dalam penentuan eksperimental bagi kensekuensi-konsekuensi
selanjutnya dalam praksis.
b. Kaitan
Sejarah Instrumentalisme
Instrumetalisme John Dewey (pragmatisme) sebenarnya mempunyai akar pada
tokoh-tokoh filsuf yang mendahuluinya. Namun karena John Dewey adalah seorang
empiris, maka filsuf-filsuf empiris Inggris justru mempunyai pengaruh yang
sangta besar terhadap perkembangan pemikiran Dewey sendiri.
Salah seorang tokoh yang berpengaruh pada Dewey adalah Francis Bacon. Sebagai
seorang empiris, Bacon menolak ilmu pengetahuan pada masanya yang baginya ilmu
pengetahuan itu tidak menyentuh realitas. Karena itu Bacon memaknai ilmu
pengetahuan itu secara baru yaitu ilmu pengetahuan yang diabdikan demi
kebutuhan praktis manusia. Dalam hal ini, Bacon tidak menolak secara mutlak keberadaan
ilmu pengetahuan, namun yang penting baginya adalah bahwa ilmu pengetahuan
memiliki makna praktis bagi kehidpan manusia.
Dari sekian banyak filsuf yang turut mendukung kelahiran teori pragmatisme
hanya Bacon sajalah yang diakui oleh Dewey. Bagi Dewey, Bacon adalah seorang
nabi inspirator pemikiran modern. Hal ini nampak sekali dalam sumbangan
pemikiran pragmatismenya. Dua sumbangan pemikiran Bacon yang sangat berpengaruh
dalam pemikiran Dewey adalah sebagai berikut[2]: Pertama, dalam sikap, ilmu adalah
pekerjaan sosia, karena itu ilmu tidak ditatap secara lepas dari lingkup
kebutuhan manusia yang praktis. Kedua, ilmu bukan renungan mendalamseorang individu
belaka, akan tetapi lebih merupakan pekerjaan sosial yang didalamnya sekelompok
orang turut berpartisipasi dan terikat dalam satu tujan tertentu.
E. Pemikiran
John Dewey Tentang Pendidikan
1. Konsep dasar
Pemikiran Pendidikan Dewey
Pola pemikiran Dewey tentang pendidikan sejalan dengan konsepsi
instrumentalisme yang dibangunnya, dimana konsep-konsep dasar pengalaman
(experinence), pertumbuhan (Growth), eksperimen ( experiment) dna transaksi
(trnsaction) memiliki kedekatan yang akrab, sehingga Dewey mendeskripsikan
filosofi sebagai teori umum pendidikan dan pendidikan sebagai laboran yang
didalamnya perbedaan-perbedaan filosofi menjadi konkrit dan tahan uji. Pendidikan dan filosofi saling
membutuhkan satu sama lain; dimana tanpa filosofi, pendidikann kering akan
arahan inteligensi. Sebaliknya, tanpa pendidikan, filosofi kehilangan
implementasi praktis dan menjadi mandul. Pengalaman merupakan basis dari
keduanya, dimana pendidikan didefenisikan sebagai rekonstruksi dan reorganisasi
dari pengalaman yang memberi tambahan pada arti pengalaman, dan yang
meningkatkan kemampuan untuk mengarahkan pengalaman berikutnya. Dalam pedagogi
Creed, Dewey (1897) mendefenisikan itu menjadi lebih singkat, sebagai suatu
rekonstruksi yang terus menerus dari pengalaman dan dalam Democracy and
Education, Dewey (1961) mendefenisikan pendidikan sebagai penuntun secara
inteligensia terhadap perkembangan tentang kemungkinan-kemungkinan yang melekat
pada kebiasaan pengalaman.
Jika dielaborasi lebih lanjut, pemikiran diatas dapat diartikan bahwa untuk
dapat tertarik pada sesuatu hendaknya terlibat dalam transaksi yaitu
dengan mengalami. Tesis ini
berlaku baik pada anak maupun berbagai bentuk organisme lain. Pengalaman adalah
suatu proses yang bergerak terus menerus dari suatu tahap ke tahapan
rekonstruksi sebagaimana problem baru mendorong inteligensi untuk
menformulasikan usulan-usulan baru untuk bertindak. Pada prinsipnya,
pengembangan pengalaman datang melalui interaksi berbagai aktivitas (means)
dimana pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses sosial. Makna sosial
dalam pendidikan merupakan penekana khusus dalam pemikiran Dewey dan menentukan
pandangan keduanya , anak di sekolah dan sekolah di masyarakat. Dalam banyak tulisannya,
Dewey sering memberikan kritik terhadap sistem persekolahan tadisional. Yang
dapat dijelaskan disini bahwa dalam sekolah tradisional, pusat perhatian berada
di luar anak, apakah itu guru, buku, teks dan lain-lain. Kondisi ini merupakan
kegagalan untuk melihat anak sebagai makhluk hidup yang tumbuh dalam pengalaman
dan dimana dalam kapasitasnya untuk mengontrol pengalaman dalam transaksinya
dengan lingkunga. Hasilnya pokok persoalan terisolasi dari anak dan hubungan
pribadi menjadi formal, simbolik, statis, mati. Sekolah menjadi tempat untuk
mendengarkan untuk instruksi masal dan selanjutnya terpisah dari hidup.
Menurut
Dewey dalam Experience and Education, pendidikan merupakan persiapan. Dengan demikian, pendidikan merupakan
suatu rekonstruksi pengalaman, dari langkah ke langkah, untuk persiapan
berikutnya. Pencapaian goals masa depan disini yang belum diketahui sebelumnya;
melainkan didekati secara eksperimental dan dibentuk oleh
kosekuensi-konsekuensi. Dalam konteks ini, Dewey mengkritisi segala upaya yang
mencoba mendidik anak dengan pencapaian yang sudah pasti, yang memaksa mereka
menimbang pola-pola prestasi sebagai antisipasi ke depan. Anak-anak tersebut
dididik untuk mencapai warga negara, kejujuran; mereka diajar membaca,
berhitung, geografi, karena akan berguna untuk mereka dalam hidupnya. Namun
pemikiran ini hanya bisa diberlakukan dengan asumsi bahwa ketrampilan yang di
pelajari saat ini dapat secara efektif digunakan untuk kepentingan masa depan
yang kemungkinan sekali berubah
2. Sumbangan
pemikiran Dewey Terhadap Pendidikan.
Apresiasi dan sumbangan pemikirannya tidak dapat dipungkiri terlah
berdampak luas. Di Amerika, disebutkan bahwa dialah orang yang lebih
bertanggung jawab terhadap perubahan pendidikan Amerika selama tiga
dekade yang lalu. Pada tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah
menengah dan tinggi, pengaruh Dewey telah memberikan rujukan terhadap praktek
persekolahan, dari yang bersifat formal dan pengajaran yang penuh dengan gaya
memerintah ke arah konsep pembelajaran yang lebih manusiawi. Dalam hal ini
pemikiran Dewey memberi rujukan tentang pusat pendidikan pada anak dan
berproses dalam pengalamannya. Kurnag lebih ada tiga sumbanga pemikirannya
dalam pendidikan:
a. Dewey
melahirkan konsep baru tentang kesosialan pendidikan. Disini dijelaskan bahwa
pendidikan memiliki fungsi sosial yang dinyatakan oleh Plato dalam bukunya,
Republic, dan selanjutnya olen banyak penulis desebutkan sebagai teori
pendidikan yang umum. Tetapi Dewey lebih dari itu, bahwa pendidikan adalah instrumen
potensial tidak hanya sekedar untuk konservasi masyarakat, melainkan juga untuk
pembaharuannya. Ini ternyata menjadi doktrin yang akhirnya diakui sebagai
demokrasi, dimana Dewey memperoleh kredit yang tinggi dalam hal ini.
Selanjutnya hubungan yang erat antara pendidikan dan masyarakat; bahwa
pendidikan harus terefleksikan dalam menajemennya dan dalam kehidupan di
sekolah terefleksi prinsip-prinsip dan gagasan-gagasan yang memotivasi
masyarakat. Akhirnya proses pembelajaran adalah lebih tepat disuasanakan
sebagai aktivitas sosial, sehingga iklim kerja sama dan timbal balik menggeser
suasana kompetensi dan keterasingan dalam memperoleh pengetahuan.
b. Dewey
memberikan bentuk baru terhadap konsep keberpusatan pada anak. Dalam hal ini
pemikiran Dewey berdasar pada landasan-lndasan filosofis, sehingga lebih kuat
jika dibandingkan dengan para pendahulunya. Demikian pula pada sebuah
penelitiannya tentang anak menjadi lebih meyakinkan dengan dukungan pendekatan
keilmuan dan tidak terkesan sentrimental
c. Proyek dan
problem solving yang mekar dari sentral konsep Dewey tentang pengalaman telah
diterima sebagai bagian dalam tekhnik pembelajaran di kelas. Meskipun bukan
sebagai pencetus, namun Dewey membangunnya sebagai alat pembelajaran yang lebih
sempurna dengan memberi kerangka teoritik dan berbasis eksperimen. Dengan
demikian. Deweylah yang telah membawa orang menjadi tetarik untuk menerapkannya
dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di sekolah, termasuk digalakannya
kegiatan berlatih menggunakan inteligensi dalam rangka penemuan.
Dengan ketiga
penekanan dalam pendidikan tersebut, telah memberikan udara segar terhadap
konsep pendidikan sebagai sebagi suatu proses sosial terkait erat dengan
kehidupan masyarakat secara luas di luas sekolah; dan sebaliknya hal ini juga
memberikan kontribusi terhadap peningkatan kehidupan mesyarakat di sekolah, dan
hubungan antara guru dan pengajaran.
2. Pengalaman dan Pertumbuhan
Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin
(1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses,
dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. Hidup tidak
statis, melainkan bersifat dinamis. All is in the making, semuanya dalam
perkembangan. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya
pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat, khusunya
malalui pendidikan. Menurut Dewey, dunia ini penciptaannya belum selesai.
Segala sesuatu berubah, tumbuh, berkembang, tidak ada batas, tidak statis, dan
tidak ada finalnya. Bahkan, hukum moral pun berubah, berkembang menjadi
sempurna. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi,
baik tingkah laku maupun pengetahuan.
Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat
instrumentalisme. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang
mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup
dalam lingkungan sosial dan fisik. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun
berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan
bergerak kembali menuju pengalaman. Untuk menyusun kembali
pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan
transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu.
Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di
laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. Di lembaga ini,
Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang
menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. Dengan model tersebut, siswa
dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan
kemampuannya dan keahliannya.
Sebagai tokoh pragmatisme, Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya
dalam kehidupan praktis, baik secara individual maupun kolektif. Oleh
karenanya, ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan
bagi perbuatan. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang
sama sekali tidak berfaedah. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan
menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. Dengan cara demikian, filsafat menurut
Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai.
3. Tujuan
Pendidikan
Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika, Dewey berpendirian bahwa
sistem pendidikan sekolah harus diubah. Sains, menurutnya, tidak mesti
diperoleh dari buku-buku, melainkan harus diberikan kepada siswa melalui
praktek dan tugas-tugas yang berguna. Belajar harus lebih banyak difokuskan
melalui tindakan dari pada melalui buku. Dewey percaya terhadap adanya
pembagian yang tepat antara teori dan praktek. Hal
ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. Yang
dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual, tetapi untuk
mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif, penuh minat dan siap
mengadakan eksplorasi.
Dalam masyarakat industri, sekolah
harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. Belajar haruslah
dititiktekankan pada praktek. Akhirnya, pendidikan harus disusun kembali
bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan, tetapi pendidikan
sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Sekolah
hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental, sedangkan pendidikan yang
sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah, dan tidak ada
alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput.
Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan
untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan
kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. Tata susunan masyarakat yang
dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi
yang didasarkan atas kebebasan, asas saling menghormati kepentingan bersama,
dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. Mengenai konsep demokrasi dalam
pendidikan, Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan
kebebasan mengeluarkan pendapat. Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima
pengetahuan yang diberikan oleh guru. Begitu pula, guru harus menciptakan
suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan. Karena pendidikan
merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat, maka suatu
kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan
istimewa. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang
memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan
mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial.
Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. Yakni,
kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta
pengalaman bekerja sama. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat
menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang
dibutuhkan dalam kegiatan bersama. Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti
hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. Dasar demokrasi adalah
kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk
menghasilkan kemerdekaan inteligent. Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan
dalam berkepercayaan, mengekspresikan pendapat, dan lain-lain. Kebebasan
tersebut harus dijamin, sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang.
Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, karena filsafat pendidikan
merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan
moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam
realitas sosial dewasa ini. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan
sebagai solusinya. Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat
menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut. Di dalam filsafat John Dewey
disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan
pengalaman, yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide
tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara
pengetahuan dan kesadaran, dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses
sosial. Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk
pendidikan, yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan
kelanjutan pikiran dan benda.
F. Tolak Ukur Penilaian Moral
a. tindakan yang dinilai baik
Dalam
teori nilai moral tradisional, suatu tindakan dinilai baik jika dapat menunjang
pencapaian tujuan akhir (nilai final) sebagai kebaikan tertinggi yang
dicita-citakan. Bagi Dewey, teori tersebut terlalau menyibukkan diri dan
berkutat dengan spekulasi tentang tujuan akhir dan standar terakhir untuk
menentukan benar salah, baik buruk perilaku manusia. Spekulasi tsb didasarkan
pada kepercayaan akan adanya finalitas dari segala sesuatu.
Dengan mengkritik spekulasi tentan tujuan akhir tersebut, Dewey mengusulkan apa
yang disebut sebagai ”tujuan-tujuan yang dibanyangkan atau direncanakan
untuknya ”ends-in-view)”. Tujuan tersebut ditentukan setiap kali ada
sesuatu yang harus dilakukan.
Menurut Dewey, nilai suatu tujuan banyak ditentukan oleh sarana yang digunakan
untuk mencapainya. Ia mengkritik terori moral tradisional yang menilai baik
buruknya perilaku manusia berdasar tujuan akhir yang sudah tetap dan baku,
cenderung membuat orang tidak kritis dan kreatip untuk melihat kemungkinan adanya
tujuan dan nilai baru.
Bagi Dewey, memahami tujuan dan kebaikan moral sebagai ends-in- view berarti
tidak hanya membuat orang lebih sadar dalam bertindak, kritis dan terbuka
terhadap kemungkinan kemungkinan baru, tetapi juga membuak peniulaian terhadap
perilaku seseorang tidak kejam. Alasan karena situasi kongkrit yang
mengkondisikan si pelaku moral ikut dipertimbangkan.
Gagasan tentang ends-in-view tersebut didasarkan atas paham pemikirannya
yang ia sebut ”naturalisme empiris”. Dalam pandangan tersebut, manusia manusia
digambarkan sebagai organisme yang berinteraksi secara internal dengan
lingkungannya. Hidup merupakan proses interaksi dengan alam yang terus berubah.
Demikian pula dengan proses interaksiyang terus bewrubah, berkembang dan
diperkaya. Ends-in-view itu terbentuk sebagai realisasi dari interaksi
tersebut.
Suatu ends-in-view selalu dilihat dalam perspekrif sosial- histori
tertentu dan terbuka terhadap perkembangan selanjutnya. Hal ini karena ends-in-view
merupakan suatu keseimbangan yang bergerak.
Jadi ada 3 poin
yang dapat disimpulkan
1. baik
buruknya suatu tindakan secara moral tidak tapat dipuituskan secara apriori
lepas dari situasi kongkret yang melingkupi
tindakan tersebut.
2. baik
buruknya suatu tindakan perlu dinilai dan diputuskan berdasarkan akibat-akibat
tindakan tersebut sebagaimana diproyeksikan dalan ends-in view dalam
konteks permasalahan yang dihadapi.
3. baik
buruknya suatu tindakan tergantung dan apakah tindakan itu bisa mencapai ends-in-view
dalam deliberasi moral atau tidak. Tindakan dinilai baik apabila dapat dikenali
dari akibat tindakan itu dan kenyataan kongkret yang dialami sebagai pemuasan
kebutuhan nyata, perbaikan keadaaan yang menunjang pertumbuhan.
b. Perbuatan Yang Baik Berarti Harus
Menunjang Proses Perwujudan Diri Manusia Sebagai Manusia.
Suatu tindakan dinilai menunjang perkembangan dan perwujudan diri kalau
tindakan itu mewujudkan ends-in-view. Tindakan yang dimaksud adalah
tindakan yang dipikirkan masak-masak, serta memperhitungkan
kemungkinan-kemungkinan akibatnya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dewey juga ber pendapat bahwa setiap orang perlu memupuk rasa tertarik
pada hal-hal yang menunjang kesejahteraan umum sebagai hal yang patas
diinginkan bagi perkembangan dan perwujudan dirinya sebagai manusia dan tidak
melakukan sesuatu untuk orang lain melulu karena kewajiban.
G. Kritik Terhadap Pemikiran Dewey
1.
Instrumemtalisme
Dewey berpendapat bahwa berpikir sebagai alatuntuk memedcahkan masalah. Dengan
demikian maka ia mengesampingkan penelitian ilmu murni yang secara langsung
berlaitan dengan kehidupan kongkret.
2.
Eksperimentalisme
Kita menguji kebenaran suatu peoposisi dengan melakukan percobaan. Dengan
demikan maka tidak ada kebenaran yang pasti dan dapat dijadikan pedoman dalam
bertindak. Misalnya: suatu UU terus menurus diuji. Lantas, kapan masyarakat
bisa amenjadikan UU itu sebagai pedoman untuk bertindak? Pendek kata dalam
hidup bermasyarakat, kita memerlukan kebenaran yang ditetapkan, bukan
terus-menerus diuji.
3. Pendidikan
Dewey menwkankan pendidikan formal
berdasarkan minat anak-anak dan pelajaran yang diberikan
hendaknyadisesuaikan dengan minat anak-anak. Dengan pandangan yang demikian
maka pelajaran yang berlangsung di sekolah tidak difokuskan karena minat setiap
anak itu berbeda-beda. Demikian juga dengan pelajaran-pelajarn pokok yang harus
diajarkan kepada anak-anak tidak dapat diterapkan dengan baik.
4.
Moral
Penolakan dewey terhadap gagasan adanya final end berdasarkan finalis kodrat
manusia dan sebagai gantinya ia menekankan peran ends-in-view, membuat
teorinya jatuh pada masalah ”infinite regress” (tidak adanya pandangan yang
secara logis memberi pembenaran akhir bagi proses penalaran. Karena adanya
final end yang berlaku universal ditolak dan yang ada adalah serangklaian ends-in-view
maka pembenaran terhadap ends-in-view tidak pernah dilakukan secara
defenitif. Akibatnya tidak ada tolak ukur yang tegas untuk menilai tindakannitu
baik atau tidak.
F.
Tinjauan Kritis
Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa pragmatisme merupakan filsafat
bertindak. Dalam menghadapi berbagai persoalan, baik bersifat psikologis,
epistemologis, metafisik, religius dan sebagainya, pragmatisme selalu
mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya. Setiap solusi terhadap masalah
apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuansi praktisnya, yang dikaitkan
dengan kegunaannya dalam hidup manusia. Dan konsekuensi praktis yang berguna
dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi. Dalam rangka
itulah, kaum pragmatis tidak mau berdiskusi bertele-tele, bahkan sama sekali
tidak menghendaki adanya diskusi, malainkan langsung mencari tindakan yang
tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. Kaum pragmatis adalah manusia-manusia
empiris yang sanggup bertindak, tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis
yang mandul tanpa isi, melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang
dihadapi dengan tindakan yang konkrit.
Karenanya, teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak,
bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri.
Teori yang tepat adalah teori yang berguna, yang siap pakai, dan yang dalam
kenyataannya berlaku, yaitu yang mampu memungkinkan manusia bertindak secara
praktis. Kebenaran suatu teori, ide atau keyakinan bukan didasarkan pada
pembuktian abstrak yang muluk-muluk, melainkan didasarkan pada pengalaman, pada
konsekuansi praktisnya, dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya.
Pendeknya, ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang
dinyatakan dalam teori tersebut.
Pragmatisme mempunyai dua sifat, yaitu merupakan kritik terhadap pendekatan
ideologis dan prinsip pemecahan masalah. Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis,
pragmatisme mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan, misalnya
fungsi pendidikan. Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita,
filsafat, rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali tidak memiliki konsekuansi
praktis. Bagi kaum pragmatis, yang penting bukan keindahan suatu konsepsi
melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat.
Sebagai prinsip pemecahan masalah, pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan
atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada,
mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa, sehingga
keraguan dan keresahan tersebut hilang.
Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi
positifnya. Pragmatisme, misalnya, mengabaikan peranan diskusi. Justru di sini
muncul masalah, karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar
pertanggungjawaban yang diambil sebagai pemecahan atas masalah tertentu.
Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap
perselisihan teoritis, pertarungaan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang
berkepanjangan, demi sesegera mungkin mengambil tindakan langsung.
Dalam kaitan dengan dunia pendidikan, kaum pragmatisme menghendaki pembagian
yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. Pengembangan
terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif,
sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan
kebutuhan masyarakat. Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting
agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu
menekankan yang praktis. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan
praktis masyarakat, sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan
tersebut dapat dikatakan disfungsi, tidak memiliki konsekuansi praktis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar